Mission Impossible: ASUS VivoBook 14 A416

Baghdad International Airport, Irak, 3 Januari 2021, pukul 00.32 waktu setempat.

Empat lelaki keluar dari pintu terminal kargo Bandara Internasional Baghdad, Irak. Keempatnya disambut lima lelaki lainnya yang sudah menunggu sejak tiga jam sebelumnya. Sembari bersalaman dan berpelukan, kesembilannya melangkah cepat menuju area parkir tempat dua mobil SUV berwarna hitam menunggu.

Creech Air Force Base, Nevada, Amerika Serikat, 2 Januari 2021, pukul 15.38 waktu setempat.

Tiga monitor menampilkan pergerakan MQ-9 Reaper. Drone yang baru saja memasuki wilayah angkasa Baghdad itu diterbangkan dari pangkalan militer Al Udeid Air Base di Qatar. Indikator persenjataan yang berkedip-kedip menunjukkan misil AGM-179 JAGM (Joint-Air-to-Ground Missile) yang berada di kedua sayap pesawat nirawak itu siap diaktifkan.  

“Kolonel.” Seorang perwira berpangkat kapten menoleh pada lelaki yang berdiri tepat di samping kanan kursi yang didudukinya. Kesepuluh jarinya bersiap di atas keyboard komputer.

Tanpa menyahut, lelaki yang dipanggil “kolonel” itu meletakkan secarik kertas seukuran kartu nama di samping keyboard. 

Sang kapten menggeser kertas itu lebih dekat dengan papan ketik elektroniknya. Satu per satu karakter yang tercetak pada kertas diinputnya ke dalam sistem komputer. 33°15′45″N 44°14′04″E.

Tiga detik kemudian layar monitor yang berada di depannya menampilkan sebuah foto citra satelit. Mata sang kapten membuka lebih lebar. Bandara.


Hotel DeBuer, Anyer, Indonesia, 3 Januari 2021, pukul 04.41 WIB. 

Dering classic bell telepon nirkabel membangunkan Salsa Sinambela dari tidur singkatnya. Dengan mata setengah terbuka, perempuan berambut hampir sepinggang itu bergeming. “Yap.” Suara Salsa lirih nyaris tanpa suara. “Aku di Indonesia. Di sini masih …,” 

Dalam keremangan Salsa melihat ujung jarum pendek jam dinding mengarah di antara angka 4 dan 5. Sementara ujung jarum panjangnya menutupi sebagian angka 8.

“Aku tahu.” Suara lelaki dari ujung sambungan memotong. “Teman Rusia … baru … pesan …. “

Suara lelaki itu terputus-putus dan terdengar terengah-engah. Bising lalu-lalang kendaraan membuat suara lelaki itu makin tidak jelas. 

Sambil berupaya memusatkan indera pendengarannya, Salsa menggeser posisi tubuhnya.

Dengan menggunakan ASUS VivoBook S penulis tengah menyelesaikan cerpen “Mission Impossible: VivoBook 14 A416” di salah satu caffe di Kota Cirebon (Sumber: Dok.Pri.)

Tiba-tiba. 

“Dor … dor … dor …!”

Decit panjang suara rem menyusul.

Kedua mata Salsa membuka penuh.

“Dor … dor …!” Suara tembakan lebih keras dari tiga letusan sebelumnya.

Salsa mendadak sadar sepenuhnya. “Ethan.” Tak ada sahutan. “Ethan … Agen Ethan Hunt!”

Menyadari telah terjadi sesuatu pada Ethan, dengan terburu-buru Salsa mengeluarkan tubuhnya dari belitan selimut tebal. Gerakannya membuat daster kucel kesayangannya tersingkap hingga melewati batas pinggang. Kemudian ia berguling ke tepi ranjang. Sambil meraba-raba dinding mencari sekelar lampu, Salsa menelepon lelaki yang dipanggilnya Ethan Hunt.

“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif, atau ….”


Dari laci meja kecil di samping ranjang, Salsa mengambil sebuah notebook. Pada tutup notebook berwarna slate grey itu tertulis empat huruf berwarna perak: ASUS

Diletakkannya perangkat komputasi mobile itu di atas meja kayu yang berada dekat jendela kamar. Gorden jendela itu terbuka. Semalam Salsa lupa menutupnya. 

Sambil meletakkan pantatnya pada kursi, perempuan berusia 43 tahun itu membuka top assy laptop. Sasis yang kokoh membuat perangkat mobile itu dapat dibuka hanya dengan menggunakan satu jari.

Dua detik setelah tombol power ditekan, layar notebook memunculkan sederet kata “ASUS IN SEARCH OF INCREDIBLE”.

ASUS VivoBook 14 A416 (Sumber: ASUS.com)

Notebook bermerek ASUS itu belinya seminggu yang lalu saat mengunjungi kekasihnya di Cirebon. Salsa yang sedang getol-getolnya menulis cerpen membutuhkan laptop baru sebagai pengganti notebook lamanya yang mulai ngadat

“Itu, ASUS yang terbaru ya?” Salsa mengarahkan ujung telunjuk tangan kanannya ke notebook yang berada di rak atas etalase. Ia mengetahui tipe keluaran terbaru vendor asal Taiwan itu setelah mencari informasi lewat Google.

“Ya, Bu. Ini ASUS VivoBook 14 A416,” sahut salah seorang pelayan toko. Pelayan toko itu kemudian mengeluarkan dua laptop yang ditunjuk Salsa. “Ada dua pilihan warna: transparent silver dan slate grey,” sambungnya sambil meletakkan keduanya di atas etalase setinggi perut orang dewasa. “Sudah gratis Windows 10, lho Bu.”

ASUS ViviBook 14 A416 warna slate grey tampil elegan (Sumber: ASUS.com)

“Yang ini saja deh.” Jemari Salsa mengelus-elus komputer jinjing berdimensi 32.54 x 21.60 x 1.99 cm yang berwarna slate grey, namun kedua matanya memandangi notebook satunya. Untuk beberapa saat Salsa meragu. Dua-duanya sama stylish-nya.


Dalam perjalanan pulang dari Cirebon, Salsa merasakan ada yang tidak beres dengan kondisi fisiknya. Tenggorokannya terasa sakit. Suaranya serak. Hidungnya mampet. Otot-otot leher sampai kaki seperti ketarik.

Sesampainya di Jakarta, ia memutuskan turun di Stasiun Jatinegara dan langsung mendatangi Rumah Sakit Persahabatan. Di rumah sakit yang berada di kawasan Cipinang itu, Salsa menjalani tes SWAB Covid-19.

Sambil menunggu hasil tes keluar, Salsa memilih mengisolasi diri di Anyer selama beberapa hari sebelum kemudian terbang ke Banjarmasin menemui keluarganya.

Selama empat hari menginap di ujung barat pulau Jawa itu, hampir setiap sore Salsa berjalan-jalan menelusuri pantai-pantai di sepanjang pesisir. Setiap kali mendapati spot yang menurutnya cantik, perempuan berkulit putih bersih itu memotretnya atau memvideokannya.

Ada tiga puluhan foto dan belasan video dengan spot-spot cantik yang sudah dikoleksinya. Rerata berlatar belakang sunset. Koleksi foto dan video itu disimpan di notebook barunya yang memiliki gudang penyimpanan ganda, dual storage.

ASUS VivoBook 14 A416 dilengkapi SSD 1 TB dan HDD 256 GB (Sumber: ASUS.com)

Dengan desain ruang penyimpan sedemikian rupa, Salsa bisa menyimpan foto dan file-file besar seperti musik dan video di ruang penyimpanan HDD yang berkapasitas 256 GB. Sementara untuk sejumlah aplikasi disimpan di SSD yang berkapasitas 1 TB. Kapasitas yang lapang dari SSD inilah yang membuat ASUS VivoBook 14 A416 mampu lebih cepat dalam memberikan respon.

Rancangan dual storage yang dirancang ASUS untuk tipe terbarunya itu menjadi salah satu alasan Salsa menjatuhkan pilihannya pada ASUS VivoBook 14 A416. 

Sembari memindahkan video dan foto yang diambilnya dari handphone ke notebook, acap kali Salsa mendengarkan musik dari sejumlah channel YouTube. Suara jernih yang dihasilkan teknologi SonicMaster yang dicangkokkan pada VivoBook 14 A416 membuatnya dapat menikmati musik semaksimal mungkin.

Tapi, setelah Ethan meneleponnya tadi, Salsa menyadari bila dalam beberapa waktu ke depan kehidupannya akan berubah.


Email yang dikirim Ethan tidak bersubyek. Pada badan email terdapat foto close up perempuan kaukasoid dengan latar belakang dinding batu bata ekspos. Dengan mouse tanpa kabel, Salsa mengarahkan kursor ke foto, lalu mengkliknya. Tanpa berkedip, diamatinya foto yang ditampilkan layar berukuran 14 inchi itu.

Perempuan pada foto tersenyum lebar hingga menampakkan deretan giginya yang putih. Rambutnya pirang keemasan. Bajunya flanel kotak-kotak merah-hitam dan dua kancing paling atasnya tidak terkait hingga menampakkan belahan dadanya.

Kembali Salsa memperbesar ukuran foto menjadi 200 %. Pandangannya langsung tertuju ke arah benda yang berada di antara belahan dada perempuan pada foto. 

Teknologi NanoEdge Display pada layar beresolusi Full HD yang dikombinasikan dengan NVIDIA® MX330 menciptakan tampilan foto yang begitu detail. Kembali Salsa memperbesar ukuran foto. Kali ini hingga 500 %. Tampilan foto memenuhi layar yang berasio 80% dari badan laptop. Di antara belahan dada perempuan itu terlihat sebuah kalung berbentuk angka “7 “

Layar NanoEdge memberi ASUS VivoBook 14 A416 area layar yang luas untuk pengalaman yang imersif untuk bekerja dan bermain (Sumber: ASUS.com)

Tidak ada sesuatu yang aneh pada tampilan foto itu. Tapi, Salsa tahu tampilan foto itu bukan yang sebenarnya. Foto itu hasil enkripsi sebuah program. Kecurigaan Salsa menguat begitu mengetahui foto itu berukuran 240 Mb.

Sensor kewaspadaan Salsa sudah terasah semenjak CIA merekrutnya 15 tahun yang lalu. Setelah bekerja selama 8 tahun, Asisten Direktur Cryptografer CIA memindahkannya ke Crypto AG yang berkedudukan di Swiss.

Di perusahaan komersial yang dioperasikan CIA dan Dinas Intelijen Jerman, Bundesnachrichtendienst (BND) itu, Salsa bersama timnya bekerja untuk operasi dengan sandi “Rubicon”. Tugasnya mengintai komunikasi di sejumlah negara. 

Pada November 2015, Pentagon mendapatkan rekaman percakapan antara pusat kendali Angkatan Udara Turki dengan pilot Turki yang menembak jatuh Sukhoi milik Rusia. Dari rekaman terbukti bila pesawat Sukhoi ditembak jatuh di wilayah udara Suriah, bukan di wilayah Turki seperti yang diklaim Menteri Pertahanan Turki.

Salsa yang mendapatkan bocoran rekaman itu kemudian memberi tahu Ethan yang dikenalnya saat masih bekerja di markas besar CIA. Oleh Ethan rekaman itu dikirimkan ke sejumlah media di Amerika Serikat dan Eropa.

“Save the world.” Alasan Ethan untuk menyakinkan Salsa.

Lantaran perbuatannya itu, Salsa dipecat dari CIA dan sempat menjalani masa penahanan. Ia dibebaskan dua tahun lalu tanpa melewati proses peradilan. 

Setiap mengingat pengkhianatannya pada CIA, Salsa merasa dirinya telah menyelamatkan manusia dari Perang Dunia 3. Dan, kini ia kembali berhubungan dengan Agen Ethan Hunt.

Salsa kembali menggeser mouse, mengarahkan kursor ke ikon download. Lalu menekan tombol klik kiri mouse. Dengan kecepatan internet di Indonesia yang rerata 14 Mbps, Salsa membutuhkan waktu sekitar 2 menit untuk menyelesaikan proses pengunduhan foto yang dikirim Ethan.

Proseser Intel® Core™ i5 generasi ke-10 penopang kinerja ASUS VivoBook 14 A416 (Sumber: ASUS.com)

Dua menit bukan waktu yang pendek bagi Salsa. Salsa membutuhkan waktu yang lebih cepat lagi. Tapi, ia tidak memiliki daya lain selain mengandalkan kinerja prosesor Intel® Core™ i5 generasi ke-10 yang ditanamkan ASUS sebagai otak bagi VivoBook 14 A416. Kinerja otak notebook yang dirilis pada akhir 2020 ini menjadi lebih maksimal lagi dengan dukungan RAM 8 GB.

Sekilas sudut mata Salsa menangkap cahaya yang bergerak di luar. Reflek ia menoleh ke arah jendela. Cahaya itu mengitari hotel tempatnya menginap.

Segera Salsa menghubungi resepsionis hotel lewat telepon kamar. Sambil menunggu panggilannya dijawab, Salsa mengamati proses pengunduhan. Dengan wide viewing angle hingga 178° yang dihadirkan VivoBook 14 A416, Salsa bisa melihat download status bar jelas dari posisinya. Setengah lagi.

“Apa ada tamu, atau apalah itu, yang datang dengan helikopter pagi ini?” Tanpa salam atau basa-basi, Salsa langsung menyemburkan pertanyaannya. 

 “Mohon tunggu sebentar, Bu.” Suara resepsionis terdengar renyah. Beberapa detik kemudian. “Terima kasih telah menunggu. Sesuai informasi yang kami dapat, pagi ini tidak ada ….” 

Salsa langsung menutup telepon. Waktuku cuma 45 detik.  


Tanpa menoleh kiri-kanan, Salsa Sinambela melangkah cepat menuju pintu lobi hotel. Ia tidak mengacuhkan ketika salah seorang dari tiga lelaki yang berpapasan dengannya bersiul menggoda.

Salsa menyadari penampilannya menarik perhatian. Waktu yang dimilikinya untuk keluar dari kamar kurang dari 45 detik. Dengan waktu yang semakin tipis, Salsa tidak sempat mengganti daster kucelnya dengan pakaian lain yang lebih pantas. 

Begitu melewati pintu lobi, Salsa langsung mempercepat langkahnya. ASUS VivoBook 14 A416 yang memiliki ketebalan 19.9 mm dikempitnya dengan lengan kanan. Sampai di gapura hotel, Salsa berlari kecil ke arah pangkalan ojek motor dan mobil yang berada tak jauh dari hotel tempatnya menginap.

Desain ASUS 14 A416 yang ringkas dan ringan menjadikan notebook ini menjadi pilihan dalam aktifitas mobile (Sumber: ASUS.com)

Waktu subuh baru saja berlalu beberapa menit yang lalu. Lampu-lampu penerangan jalan raya masih menyala. Tidak banyak orang yang terlihat di sekitar Jalan Raya Karang Bolong

“Bang, Abang yang punya mobil ini?” Salsa bertanya pada lelaki yang menyandar pada badan mobil MPV (Multi Purpose Vehicle

“Mau kemana, Teh?” Lelaki itu memanggil Salsa dengan sebutan “teh”, panggilan kepada perempuan yang lebih tua dalam bahasa Sunda.

“Pasar.” Salsa menjawab sekenanya.


Dari jok tengah mobi, sekilas Salsa memandangi interior MPV yang didominasi warna beige. Berbeda dengan jok depan dan jok tengah yang berwarna cognac, jok belakang MPV berwarna hitam. 

“Cepat sedikit, Bang,” pinta Salsa sambil mengaktifkan handphone-nya. Ponsel pintar itu dinonaktifkan saat berada di dalam lift yang membawanya turun dari lantai 14. Ia menduga lokasinya terlacak lewat telepon nirkabelnya. 

Salsa menyadari dengan mengaktifkan kembali handphone-nya, keberadaan sudah dapat dilacak lagi. Tapi, ia tidak mempunyai pilihan lain. Ia membutuhkan koneksi internet dari telepon genggamnya.

Setelah handphone-nya aktif, Salsa memindahkan notebook ke pangkuannya. Komputer jinjing yang memiliki bobot 1.5 kg kemudian dibukanya. Lantas ia mencabut flashdisk yang menjadi bandul kalungnya. Flashdisk bercasing logam tipis berwarna perak itu dicolokkannya ke port USB-C® 3.2.

Port USB-C® 3.2, pada ASUS VivoBook 14 A416 yang didesain dapat diputar balik yang membuat menghubungkan perangkat semudah mungkin (Sumber: ASUS.com)

Program BrooteFor yang tersimpan di dalam flashdisk merupakan kunci untuk mengakses komputer NCryp yang berada di markas National Security Agency (NSA) Maryland, AS. Port USB yang didesain ASUS untuk tipe VIvoBook 14 A416 itu memiliki kecepatan transfer data hingga 10 kali lebih cepat.

BrooteFor diciptakan secara diam-diam oleh rekan Salsa setelah mempelajari celah keamanan NCryp. Program ini juga memiliki fungsi sebagai Brute Force Attack yang mampu membobol password. Untuk mengaktifkannya, Salsa harus memasukkan satu PIN dan dua password.

Sambil menunggu NCryp terakses, Salsa membuka file foto yang dikirim Ethen. Tampilan foto tidak berubah. Masih sama seperti yang dibukanya 6 menit yang lalu.

Mendadak Salsa teringat pada baterai. Indikator baterai pada pojok kanan-bawah layar menunjukkan baterainya kurang dari separuhnya. Baterai 37WHrs, 2S1P, 2-cell Li-ion yang menjadi sumber daya pada notebooknya sebenarnya mampu digunakan hingga 8 jam lamanya. Namun, Salsa tahu BrooteFor lapar daya. 

Setelah mengetuk ikon panel sentuh untuk mengubah touchpad menjadi panel angka. Pada touchpad yang diterangi LED, Salsa mengetikkan 16 digit PIN pada kotak putih yang berada di tengah layar notebook. Tiga detik kemudian tampilan layar yang awalnya berwarna merah berubah menjadi biru. 

Keyboard3 full-size dengan backlit pada ASUS VivoBook 14 A416 sempurna untuk bekerja di lingkungan yang minim cahaya.(Sumber: ASUS.com)

Dengan cepat Salsa mengetikkan password. Dengan jarak travel key 1,4 mm pada keyboard membuat Salsa dapat mengetikkan password dengan cepat. Sementara nyala lampu latar  backlit yang memancar dari balik celah-celah tuts memudahkan pekerjaannya.


Terdengar suara gemuruh. Suaranya makin mendekat. Ketika Salsa melongok dari jendela mobi. Dilihatnya helikopter Bell yang memutari mobil yang ditumpanginya. Heli buatan Amerika Serikat itu lalu menggantung rendah di tepat atas jalan yang akan dilaluinya.

Salsa menyadari posisinya sudah terlacak. Kini ia berharap pada kecepatan kerja NCryp yang baru menyelesaikan 67% proses dekripsinya.

“Kenapa itu?” tanya sopir. 

Salsa mencondongkan badannya, melongok lewat kaca depan. Dilihatnya pintu heli yang tidak terbuka. Tidak ada yang mau menembak.

Mobil terus melaju. Gemuruh suara baling-baling semakin keras.

“Bagaimana?’Suara sopir terdengar cemas.

“Terobos saja!”

Mendadak Salsa mendengar deru knalpot sepeda motor dari arah belakang. Suaranya makin keras. Deru knalpot motor itu bercampur dengan gemuruh suara baling-baling dan mesin Pratt & Whitney heli.

“Dor … !” Letusan senjata api terdengar dari arah belakang mobil.

Sebuah peluru menerjang kaca belakang mobil lalu mengenai jok di samping pengemudi. 

Salsa merunduk. Gerakan refleknya membuat laptop jatuh dari pangkuannya.

“Brak!” Laptop membentur lantai mobil. 

ASUS VivoBook 14 A416 memiliki fitur peredam guncangan HDD E-A-R® untuk melindungi data Anda dari benturan fisik. (Sumber: ASUS.com)

Laptop yang jatuh itu sudah dilengkapi fitur HDD E-A-R®. Fitur peredam getaran VivoBook 14 A416 pada ini mampu melindungi data apabila terjadi benturan.

Dengan kecepatan penuh mobil MPV yang memiliki 4 silider itu melintas di bawah helikopter. Gemuruh baling-baling helikopter yang memiliki diameter 41 meter itu menggedor-gedor gendang telinga.

“Dor ..!” Kembali terdengar suara tembakan.

Salsa menjatuhkan dirinya ke lantai mobil. Sekilas ia melihat dua lubang pada kaca belakang mobil. Dua lubang itu seperti pusat sarang laba-laba dengan retakan-retakan kecil kaca belakang sebagai jaringnya.

“Turun kamu!” bentak sopir. 

“Kalau aku turun, kau malah bisa mati,” balas Salsa sambil merapatkan punggungnya ke pintu belakang-kiri mobil.  

Lamat-lamat dering classic bell terdengar dari dalam saku daster. 

“Bagaimana ini?

“Logat Abang seperti orang Batak. Aku pun orang Batak.” Salsa menunduk. Lewat kaca depan mobil dilihatnya pintu helikopter yang menutup rapat. “Saonari, tancap gas ma ho!” Salsa berteriak dalam bahasa Batak. Sekarang ngebut-lah.

“Tapi mobil ini jadi rusak.”

“Nanti kuganti.” Salsa menekuk lututnya lalu menaruh notebooknya di atas kedua pahanya.

“Ini mobil perusahaan. Saya bisa kena pecat.”

Salsa tidak menggubris lagi. Ia menjawab panggilan telepon. “Ya.” Dari speaker ponsel Salsa mendengar suara yang dikenalnya. “Ethan, kamu tidak apa-apa? Sekarang di mana?”

“Sidi Gaber.” Ethen menyebut nama stasiun di Alexandria, Mesir. “Sudah selesai?”

“Belum.” Salsa mengeraskan suaranya, nyaris berteriak. Top assy notebook dilebarkannya.  “Masih 82 persen

Ingin sekali Salsa mengaktifkan VGA Web Camera yang ada pada ASUS VivoBook 14 A416 agar Ethan bisa melihat situasi yang dihadapinya. Tapi, Salsa ingat BrooteFor yang lapar daya akan menguras baterainya. 

“Jangan tutup telepon.” Suara Ethan terdengar setengah berteriak.


Melewati pertigaan Anyer-Mancak, sopir membanting setirnya ke kanan. MPV seberat 1.070 kg itu oleng hingga dua roda sisi kanannya terangkat. Jemari Salsa mencengkeram kuat-kuat ujung jok minibus. Telinganya mendengar decit panjang suara rem.

Bersamaan dengan decit suara rem, deru knalpot sepeda motor terdengar perlahan menjauh.

Layar notebook meredup pertanda baterai sudah di bawah 10%. Indikator proses NCryp menunjukkan “96%”. Salsa makin gelisah.

Seingat Salsa, NCryp pernah menjeda selama lebih dari 14 jam saat menyelesaikan 3 persen terakhir. Ketika itu sebuah dokumen yang sedang diproses membawa virus jahat. Dan, itu bukan satu-satunya pengalaman.

Indicator proses NCryp menyala biru. Kedua mata Salsa membelalak. 100%

Sebelum baterai benar-benar habis, Salsa segera mencabut flashdisk. Koneksi dengan BrooteFor yang lapar daya terputus.

Tiba-tiba, deru knalpot mesin motor kembali terdengar. 

Diambilnya telepon pintarnya yang menggeletak di lantai mobil. Dengan cepat Salsa membaca hasil dekripsi

“Ethan.” Sekali lagi Salsa membaca satu baris kalimat yang ditampilkan layar laptopnya. “Dokumen ini dibuat tiga jam yang lalu.”

“Dor!” Suara tembakan terdengar keras.

Kaca jendela kanan-belakang minibus diterjang peluru. 

Salsa menoleh. Lewat retakan kaca jendela, samar-samar dilihatnya dua orang berboncengan. Pakaian mereka hitam-hitam. 

“Rem!” teriak Salsa pada sopir.

“Aku yang kena!” Sopir membantah. Suaranya tak kalah keras.

Salsa yang tidak mampu melihat dengan jelas keluar jendela membayangkan seorang yang berada di jok belakang sedang menodongkan pistol ke arahnya. Ia menggunakan tangan kiri. Kidal.

Seketika Salsa merasa hidupnya tinggal dalam hitungan detik. Cerita kekasihnya tentang Gatotkaca melintasi benaknya. Gatotkaca, kisah kekasihnya, tahu bila ia tidak mungkin menghindar dari senjata Konta yang dilepas Adipati Karna. Meskipun demikian, Putra Bima itu tetap berupaya semampu mungkin melepaskan dirinya dari kejaran senjata sekali pakai itu. Tapi, Salsa menyadari dirinya tidak mungkin lari. Bahkan sekadar untuk melompat dari mobil pun tidak mungkin.

Selama bekerja untuk CIA, Salsa belum sekalipun ditugaskan di lapangan. Ia orang kantoran yang hampir tidak pernah tersengat cahaya matahari. Ia hanya mengenal lapangan saat menjalani masa pelatihan di Camp Peary. Tapi, sekarang Salsa bukan saja berjibaku di jalanan, tetapi juga menghadapi kematian. 

Mendadak rasa takut merayapi pikirannya. Salsa memejamkan mata. Ia mencoba berdoa, tapi ingatan kemesraan dan kehangatannya bersama  kekasihnya selama di Cirebon lebih dulu menghinggapi benaknya. Ya, Tuhan.

Telinganya mendengar deru mesin sepeda motor yang digas. Satu kali … dua kali … tiga kali …. 

Salsa menunggu ajal menjemputnya. Jari-jarinya mengepal. Kedua tangannya gemetar. Matanya tertutup rapat. Mulutnya terkatup.

Tetapi, deru suara knalpot perlahan terdengar menjauh.

AUS ViviBook (Sumber: Dok. Pri.

Pelan-pelan Salsa membuka matanya. Dengan tangan kanannya yang masih gemetaran ia mengangkat tubuhnya. Dari kaca belakang mobil dilihatnya motor yang tadi menembakinya sudah tertinggal jauh. Sepertinya mereka tidak mengejar lagi.

“Kemana dia?”

Salsa tidak langsung menjawab. Ia melongok ke luar jendela. Heli yang yang tadi mengikutinya juga sudah tidak dilihatnya lagi. “Tidak tahu,” jawabnya sambil meletakkan notebook di atas jok.

Menyadari baterai yang hampir habis, Salsa hanya membacakan kata-kata yang ditebalkan. “Isinya … Soleimani … Beirut … Baghdad … Reaper … “

Bersamaan dengan itu, layar Notebook padam. Baterainya habis.

“Jadi pesan itu tentang Ghassim Soleimani?” Suara Ethant meninggi.

“He’em?’

“Terlambat. Dia sudah tewas … dua menit yang lalu.”

Mata Salsa membuka lebih lebar, mulutnya menganga.

Mobil MPV terus berjalan. Kecepatannya sudah jauh melambat.

“Kemana kita, Ito.” Supir sedikit menoleh ke belakang. Ia menyapa Salsa dengan sebutan “Ito”, panggilan kepada yang dianggap saudara.

Sambil merapikan dasternya, Salsa menjawab sekenanya. “Pasar.”

  • Kisah ini terinspirasi pembunuhan terhadap Komandan IRGC Mayjen Qassem Soleimani yang terjadi di sekitar Bandara Internasional Baghdad, Irak pada 3 Januari 2020 pukul 00.47 waktu setempat.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email

Tinggalkan komentar

Pos Terkait

Pos Lainnya