3 Fakta Covid-19 tidak Seberbahaya yang Diinformasikan

Virus corona menyebar dengan cepat. Terbukti virus ini sudah menjangkiti puluhan juta manusia dan merenggut ratusan ribu nyawa hanya dalam hitungan bulan. Tapi, virus penyebab Covid-19 ni tidak seberbahaya seperti yang diinformasikan.

Covid-19 tidak seberhaya seperti yang diinformasikan. Penyakit yang dibawa virus corona ini juga tidak sepenuhnya menyebabkan kematian. Fakta Covid-19 ini bukan disarikan dari teori konspirasi. Sama sekali bukan.

Sore itu, Senin 10 Agustus 2020 pukul 17.25 WIB, situs Worldometer mencatat sudah lebih dari 20 juta orang terpapar Covid-19. Angka itu didapat dari laporan 215 negara yang secara berkala melaporkan perkembangan pandemi Covid-19. Pada waktu yang sama, situs penyaji statistik demografi tersebut mengumumkan total 729 ribu orang meninggal dunia lantaran penyakit menular yang disebabkan virus corona.

Pada hari yang sama Indonesia menyetorkan total 127 kasus.dan 5.765 di antaranya meninggal dunia. 

Covid-19 Stemplet.com
Pakai atau lepas masker (Sumber: Cambrigdeindependent.co.uk)

Dengan angka yang disetorkannya itu, Indonesia menempati posisi 23 dalam tabel berjudul “Covid-19 Coronavirus Pandemic”. Sementara puncak “klasemen” masih diduduki Amerika Serikat yang telah membukukan lebih dari 5 juta kasus Covid-19..

Namun demikian, perlu dicatat dan ditebalkan, angka-angka yang dilaporkan secara berkala oleh negara-negara tersebut didapat dari hasil tes. Tanpa tes, tidak ada kasus yang dilaporkan. Dan, semakin masif dan rapid tes yang dilancarkan, semakin banyak pula temuan kasus Covid-19 yang dilaporkan. 

Pada 30 Juli-5 Agustus 2020, misalnya, Dinas Kesehatan Jawa Tengah menyebut ada penambahan 26 kasus Covid-19 usai dilakukan tes swab di Kota Tegal. Ini adalah fakta yang diberitakan Kompas.com pada 6 Agustus 2020.

Kalau begitu bisa disimpulkan jika tidak menggelar tes, dinas kesehatan di Kota Bahari tersebut tidak menemukan 26 warganya yang terjangkit virus corona. 

Sederhananya: “No test. No Case”.

Semakin masif dan rapid tes dilancarkan, semakin tinggi temuan kasus baru Covid-19 alias semakin banyak orang yang terkonfirmasi terjangkit virus corona. Kurva total jumlah kasus pun semakin meninggi.

Meskipun temuan kasus baru meningkat dan total kasus terkonformasi pun meninggi, faktanya kehidupan masyarakat justru semakin normal. Malah, saat ini sudah banyak anggota masyarakat yang kedapatan keluyuran tanpa masker.

Saat ini pedagang lotek sudah kembali masuk-keluar gang menjajakan dagangannya. Tukang ojek online wara-wiri lagi menjemput dan mengantarkan penumpangnya. Sosialita sudah ngumpul bareng lagi di cafe-cafe. Dan, Aparatur Sipil Negara (ASN) kembali aktif nongkrong-nongkrong di sela aktivitas kantornya. 

Karenanya, kalau saja virus corona membahayakan seperti yang dinarasikan, sudah barang tentu situasi saat ini benar-benar mencekam. Satu persatu tetangga kita ambruk dan dilarikan ke rumah sakit lantara mengalami gejala Covid-19 atau bahkan meninggal dunia  setelah kedapatan mengalami gejala-gejala corona. 

Kalau saja virus corona seberbahaya seperti yang digambarkan, setelah ratusan ribu terinfeksi dan ribuan meninggal dunia, pastinya kita sudah menjadikan rumah sebagai APD (alat pelindung diri) lantaran takut tertular.

Itu semua fakta yang dilihat oleh mata kepala sendiri. 

Kenapa sikap masyarakat berbanding terbalik dengan kurva Covid-19 yang terus meningkat?

Apakah karena masyarakat sudah semakin cuek? Ataukah karena sudah menyadari bila virus corona tidak seberbahaya seperti yang dikampanyekan selama ini?

Di China, Corona Virus hanya Mewabah di Wuhan

Pada 13 Maret 2020, South China Morning Post (SCMP) merilis dokumen pemerintah China yang menyebut seorang penduduk Provinsi Hubai berusia 55 tahun sebagai pasien pertama Covid-19. Warga yang tidak disebutkan namanya itu dideteksi telah terinfeksi virus corona pada 17 November 2019. Selain nama, SCMP juga tidak menyebutkan jenis kelamin dan kota domisili pria tersebut.

Dokumen yang dipublikasikan oleh media milik Alibaba Group tadi sekaligus mengoreksi informasi pemerintah China sebelumnya yang menyebut 8 Desember 2019 sebagai awal mula pandemi Covid-19. 

Suasana kota Wuhan saat Lockdown (Sumber: SCMP)

Jika pasien pertama sudah diketahui, tidak demikian dengan pasien nol. Dan sampai kapan pun pasien nol tidak mungkin bisa terlacak. Pasalnya, kalaupun nanti ditemukan orang yang terinfeksi virus corona sebelum warga Hubai tadi, maka orang tersebut akan ditetapkan sebagai pasien pertama. 

Namun, apapun itu, virus corona diketahui sudah menyerang China 3 minggu lebih awal dari 8 Desember 2020. Dalam rentang waktu tersebut, virus corona sudah menjangkiti paru-paru banyak orang. Artinya, jumlah korban jauh lebih besar dari jumlah kasus terkonfirmasi. 

Ada yang menarik jika membuka data Covid-19 yang disajikan WHO. Di China, dari total 84 ribu kasus, sebanyak 68.ribu kasus berasal dari Provinsi Hubai. Dari provinsi itu, 50.ribu kasus dipasok dari ibu kota provinsi Hubai: Wuhan. Artinya, di luar Hubai, virus corona hanya menjangkiti 16 ribu penduduk China.

Wuhan merupakan ibu kota provinsi berpopulasi 10.5 juta jiwa. Sebagai kota industri, Wuhan memiliki pelabuhan dan bandara. Setiap tahunnya, bandara Tianhe melayani 20-an juta penumpang. Jumlah ini menunjukkan profil Wuhan sebagai kota yang dikunjungi banyak orang. 

Kemudian, pada 23 Januari 2020, pemerintah China me-lockdown Wuhan. Ketika itu kasus Covid-19 terkonvirmasi masih 830. Jika menjadikan 17 November 2019 sebagai patokan waktu awal penyebaran virus corona, maka ada rentang waktu lebih dari 2 bulan sebelum pemerintah China me-lockdown total Wuhan.Artinya, ada waktu lebih dari 2 bulan bagi virus corona untuk menyebar ke seluruh jagad.

Tercatat, sejak 17 November 2019 corona virus sudah menjangkiti hampir 20 juta orang di seluruh dunia. Menariknya, penduduk China di luar Wuhan yang terjangkiti virus Corona hanya 34 ribu orang. 

Menarik bukan.

Fakta tadi lebih menarik lagi jika dikaitkan dengan informasi yang diberitakan SCMP 3 hari setelah penutupan total Wuhan. Menurut SCMP, sebelum Wuhan ditutup total, ada sekitar 5 juta warga, sudah lebih dulu meninggalkan kota. Jadi, dari 10,5 juta jiwa, saat di-lockdown total, Wuhan hanya ditinggali separuh penduduknya. 

Kalau virus corona bersifat ganas seperti yang diinformasikan, tentunya, dengan atau tanpa tes, ada banyak penduduk China di luar Wuhan yang mengalami gangguan pernafasan atau gejala terjangkiti corona. 

Faktanya, kehidupan warga China di luar Wuhan yang jumlahnya 1,393 miliar jiwa itu biasa-biasa saja. 

Covid-19 pasca Pesta Kemenangan The Reds

Lewat akun Twitter-nya Kepolisian Merseyside mengingatkan fan klub sepak bola soal bahaya Covid-19. Fan klub berjuluk The Reds ini diimbau tidak keluar rumah dan cukup menyaksikan kemenangan tim kesayangannya dari TV.

Imbauan pun diserukan oleh CEO Liverpool Peter Moore. 

“Saat waktunya tepat, kita semua akan bersama merayakannya,” katanya sehari sebelum Liverpool menjamu Chelsea di stadion Anfield pada 23 Juni 2020.

Tapi, pendukung klub 6 kali juara Liga Champion Eropa ini tidak peduli. Mereka bersikap masa bodoh. 

Belum juga peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan Liverpool vs Chelsea ditiupkan wasit, fan Liverpool sudah berpesta pora. Mereka sudah turun ke jalan. Mereka meluapkan kegembiraannya.    

Kemeriahan kemenangan semakin memuncak pada 26 Juni 2020 klub. Pada hari itu Liverpool secara resmi mengangkat trofi juara English Premier League.  Sebuah trofi yang terakhir kali dianugerahkan pada 30 tahun silam.

Dari video dan foto yang beredar, hanya secuil fan Liverpool yang menggunakan masker dan tidak menjaga jarak satu sama lain. Tidak hanya itu, seperti yang diberitakan Liputan6.com, banyak dari fan yang yang menggendong anak balitanya.

Faktanya, menurut data lansiran pemerintah Inggris, sebulan setelah perayaan tidak lonjakan kasus Covid-19 baru di Liverpool. 

Jika sifat virus corona seperti yang diinformasikan, sudah pasti temuan kasus Covid-19 baru di Liverpool meledak-ledak sejak 26 Juni 2020. 

Virus Corona hanya Menjangkiti Budi Karya

Pada 13 Maret 2020, diumumkan pasien baru. Ia diberi nomor 76 yang berarti temuan ke-76 kasus Covid-19 di Indonesia. Barulah pada keesokan harinya identitas pasien tersebut diumumkan oleh Menteri Sekretaris Negara Pratikno. Dia adalah Budi Karya Sumadi, Menteri Perhubungan Republik Indonesia. 

Dua hari sebelum terkonfirmasi terjangkit virus corona, Budi Karya sempat mengikuti rapat terbatas kabinet yang dipimpin langsung oleh Presiden Joko Widodo. 

Dokumentasi rapat terbataskabinet di Istana Negara yang dihadiri Budi Karya pada 11Budi Karya pada 11 Maret 2020
Dokumentasi rapat terbataskabinet di Istana Negara yang dihadiri Budi Karya pada 11Budi Karya pada 11 Maret 2020 (Sumber:CNBC.com)

Dalam ratas itu, pria kelahiran Palembang 18 Desember 1956 itu duduk diapit oleh Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Djalil dan Panglima TNI Jenderal Hadi Tjahjanto. Hadir juga Menteri Keuangan Sri Mulyani, Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko, dan belasan anggota kabinet lainnya.

Rapat yang dihadiri pasien nomor 76 itu digelar di Istana Negara. Ruangan tempat rapat itu tertutup dan tentu saja ber-AC. 

Dari foto dokumentasi diketahui  jarak Budi Karya dengan dua pejabat negara yang duduk mengapitnya sekitar 1,5 meter.

Virus corona, seperti yang diinformasikan, mudah menyebar ke orang-orang yang berjarak kurang dari 2 meter. Terlebih jika orang-orang tersebut berusia di atas 45 tahun. Ruang tertutup dan terlebih ber-AC disebut-sebut sebagai tempat yang memudahkan penyebaran virus.

Jika benar virus corona sanggup menjangkiti manusia seperti yang diinformasikan, kemungkinan besar Sofyan Djalil dan Hadi Tjahjanto yang berusia di atas 50 tahun duduk dengan jarak kurang dari 2 meter sudah terpapar virus corona.

Faktanya, setelah dilakukan pemeriksaan di RSCM, Jakarta, baik Sofyan dan Hadi dinyatakan negatif Covid-19. Begitu juga dengan pejabat-pejabat negara lainnya, termasuk Jokowi. Kesemuanya dinyatakan negatif Covid-19 alias tidak terjangkiti virus corona.

Jadi, dari fakta-fakta tadi, bisa disimpulkan bila virus corona pembawa penyakit Covid-19 ini menyebar dengan cepat. Terbukti virus ini sudah menjangkiti 20 juta manusia dan menyebabkan merenggut ratusan ribu nyawa manusia.  

Namun demikian virus corona tidak seberbahaya seperti yang diinformasikan. Bahkan, keganasan penyebaran virus pembawa Covid-19 di ruang tertutup serta berpendingin udara ini pun patut dipertanyakan.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email

Tinggalkan komentar

Pos Terkait

Pos Lainnya