2 Langkah Awal Go Digital-kan Hobi Nge-Blog lewat Teknologi Cloud Hosting

“Malam bagi makhluk-makhluk yang belum menyadari jati-dirinya, adalah saat di mana para bijak yang sadar akan jati-dirinya berada dalam keadaan jaga. Dan, siang bagi makhluk-makhluk yang menyadari diri, adalah malam bagi para bijak.” Bhagavad Gita 2:69

Sandyakalaning koran” atau “senjakala koran” menjadi populer di tanah air setelah “Sinar Harapan” berhenti naik cetak pada 1 Januari 2016. Frasa yang oleh media asing dituliskan dengan “print media is dying” itu bukan saja menyoal kesekaratan koran cetak, tetapi juga media cetak lainnya.

Koran cetak memang tidak benar-benar mati. Kompas, Koran Tempo, Pikiran Rakyat, dan masih banyak lagi yang lainnya masih tetap eksis. Namun, setidaknya, koran cetak saat ini sudah dalam kondisi “Hidup enggan. Mati tak mau”. 

Banner Blog Competiotion 320x320

Ke-sandyakalaning koran cetak ini sejatinya sudah dikonsepkan dalam “Paperless Society” atau “Masyarakat tanpa Kertas” yang dicetuskan oleh Frederick Wilfrid Lancaster pada 1978 atau 31 tahun sebelum koran legendaris Rocky Mountain News gulung tikar pada 2009.

Media-media cetak itu, termasuk majalah “HAI” yang tutup buku pada Juni 2017, tidak mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital yang bukan saja terus bertumbuh, tetapi juga semakin mudah dan murah. Secara alamiah, pangsa pasar baru pun terbentuk 

Go Digital-kan Hobi lewat Medsos atau Blog? 

Dalam perkembangannya, di pasar yang baru itu perusahaan media tidak sendiri. Pasalnya, kini sudah banyak media online yang dikelola perorangan. Di antara media-media online itu banyak juga yang dikelola sebagai penyaluran hobi.

Media online yang dikelola sebagai penyaluran hobi ini biasa disebut “website blog” yang kemudian dipendekkan menjadi “blog”. Sementara penghobinya dinamakan “blogger”. 

Seperti halnya platform media sosial (medsos), blog juga bisa kita isi dengan  konten-konten, baik itu teks, image (foto), maupun video. Namun demikian, tidak seperti tampilan medsos yang kaku, tampilan blog sangat fleksibel sehingga bisa diatur sesuai kebutuhan, keinginan, dan juga selera.

Selain itu, platform blog juga dinilai lebih profesional ketimbang medsos, sehingga konten-konten yang diunggah melalui blog lebih dipercaya. Karenanya, artikel yang dipublikasikan lewat blog lebih dipercaya validitasnya daripada jika diunggah lewat medsos. Oleh pemilik blog, medsos hanya dijadikan media untuk men-share konten-konten yang diunggahnya.

Karena tingkat kepercayaan inilah, makin banyak pedagang digital yang memiliki blog sebagai etalase digital bagi barang dagangannya. Sementara, medsos dijadikan sebagai media promosi untuk mengarahkan peminat menuju blognya.

Bagi pedagang online, blog yang memiliki penataan cantik merupakan sales profesional yang mampu mendeskripsikan setiap barang dagangan. Lebih dari itu, dengan memiliki blog, pedagang daring (dalam jaringan) juga bisa mengoperasikan fitur-fitur ecommerce yang membuatnya memiliki “kasir profesional”.

Selain itu, blog memiliki sistem kearsipan yang tidak dimiliki oleh medsos. Dengan sistem ini, visitor dapat dengan mudah menemukan konten-konten yang diinginkannya. Konten-konten tentang resep-resep masakan, misalnya, lebih mudah ditemukan dari blog daripada medsos.

Menariknya lagi, blogger juga bisa mendapatkan penghasilan dari iklan-iklan yang terpasang. Malah,  Dari situs pemantau kunjungan dan pendapatan website https://www.siteworthtraffic.com/, kita mengetahui ada sejumlah blog yang bisa mendatangkan penghasilan hingga ratusan juta setiap tahunnya  Fakta ini membuktikan bahwa blogger bisa menjadi profesi baru, bukan sekadar hobi.

Karena kelebihannya dari medsos serta peluang yang dimilikinya itu, tidak mengherankan apabila jumlah blogger terus bertambah.

Informasi ini Sinyalkan Peluang Bagi Blogger jelang 2025

Ada sejumlah informasi yang mensinyalkan peningkatan jumlah blogger. Pertama, hasil studi dari Google, Temasek, dan Bain & Company yang dirilis pada 11 November 2020. 

Menurut riset tersebut, Indonesia memiliki potensi transaksi digital yang tertinggi jika dibanding negara-negara ASEAN lainnya. Jika pada 2020 Indonesia mencatatkan nilai transaksi sebesar US$ 44 miliar, pada 2025 jumlah transaksi digital di Indonesia diprediksikan akan melonjak mencapai US$ 124 miliar.

Pencapaian itu disebabkan oleh meningkatnya pengguna telepon pintar di Indonesia. Pada 2020 saja tercatat jumlah pengguna telepon pintar di Indonesia sudah mencapai 73,7 persen dari 271 juta penduduknya. Dan, pada 2025 nanti, jumlahnya meningkat menjadi 89,2 persen. 

Di sisi lain, menurut hasil survei yang dirilis WeAreSocial.com pada 27 Januari 2021, rerata waktu yang dihabiskan orang Indonesia untuk mengakses internet per harinya adalah 8 jam 52 menit.

Sebagaimana yang dikutip dari Bhagavad Gita di atas, seorang yang bijak dapat mengantisipasi situasi di masa datang dengan menganalisis informasi yang didapatkan pada hari ini. 

Seorang yang bijak akan membaca hasil-hasil riset tersebut sebagai tantangan sekaligus juga peluang. Dan, salah satu strategi untuk menjawab tantangan dan peluang jelang 2025 adalah meng-go digital-kan konten-konten kita lewat sebuah blog.

Pilih Jenis Teknologi Hosting: “One Small Step” untuk Go Digital

That’s one small step for man, one giant leap for mankind.” Kalimat terkenal itu diucapkan Neil Alden Armstrong saat memijakkan sepatu kirinya di permukaan bulan pada 21 Juli 1969.

Satu pijakan kaki kecil dari manusia pertama yang menginjakkan kakinya di bulan itu kemudian menjadi langkah besar bagi umat manusia dalam misi-misi penjelajahan ruang angkasa. 

Dalam menjawab tantangan sekaligus peluang di era digital pada 2025, memiliki blog merupakan sebuah langkah awal guna meraih kesuksesan di masa-masa yang akan datang.

Sebagaimana langkah-langkah awal lainnya, banyak dari kita yang meragu saat ingin memiliki sebuah blog. Salah satu faktornya adalah anggapan bahwa memiliki dan mengelola blog membutuhkan skill tingkat dewa, setidaknya manusia setengah dewa. 

Selain keraguan, banyak dari kita juga dibuat bingung oleh berbagai macam pilihan paket berikut harga sewa yang ditawarkan oleh setiap penyedia layanan hosting. Dan, jika diamati, faktor perbedaan harga sewa paket inilah yang paling membingungkan.

Keraguan yang ditambahi kebingungan inilah yang membuat sebagian dari kita menunda-nunda memiliki dan mengelola sebuah blog. Padahal, jika mengetahui langkah-langkahnya, mengelola blog tidak sesulit seperti yang dianggapkan. Bahkan, saking begitu mudahnya, memiliki sebuah blog semudah seperti memiliki sebuah akun media sosial. 

Memiliki blog diawali dengan pemilihan teknologi hosting. Langkah awal ini sangat menentukan. Sebab kecepatan loading yang dihadirkan teknologi hosting merupakan faktor pertama yang membentuk tingkat kepuasan pengunjung atau visitor.

Apabila pada kunjungan pertama saja pengunjung sudah merasa terganggu dengan kecepatan loading blog kita, maka selanjutnya visitor akan enggan mengakses blog kita lagi. 

Dan, kita semua tahu apabila ketidakpuasan lebih cepat menyebar ketimbang kepuasan. Karenanya, sebagus-bagusnya kualitas konten yang diunggah, menjadi percuma apabila kemudian pengunjung merasa terganggu oleh kecepatan loading-nya, 

Ini Jenis Hosting paling Tepat bagi Blogger Pemula

Hosting, dalam terminologi website atau blog, merupakan ruang bagi data dan informasi yang diperlukan oleh sebuah blog. Lewat hosting inilah sebuah blog kita bisa diakses lewat Internet. Karena merupakan sebuah ruang, banyak yang mengibaratkan hosting sebagai bangunan rumah, hotel, apartemen, barak, atau lainnya.

Ada tiga jenis hosting yang saat ini banyak digunakan. Di antara ketiganya, VPS (Virtual Private Server) merupakan yang terbaik. Pasalnya, hosting yang memakai virtual teknologi ini memiliki sejumlah kelebihan yang tidak dimiliki cloud hosting dan shared hosting. 

Namun, karena kelebihan serta kecanggihan yang menyertainya, harga yang ditawarkan VPS pun terbilang tinggi bagi blogger pemula  Karenanya, penggunaan VPS baru tepat apabila trafik atau jumlah kunjungan pada blog kita sudah tinggi.

Dengan begitu, pilihan jenis hosting  bagi calon pemilik blog tinggal dua: cloud hosting atau shared hosting. Dengan mengumpamakan hosting sebagai ruang, menentukan pilihan di antara kedua jenis hosting ini sebenarnya tidak sulit.

Cloud hosting diibaratkan sebagai hotel dengan blog sebagai tamunya. Seperti tamu-tamu hotel, pemilik blog yang menggunakan teknologi cloud hosting memiliki berbagai keleluasaan di dalam “kamarnya” masing-masing. 

Blog yang menggunakan cloud hosting juga memiliki alamat IP dedicated yang diibaratkan sebagai nomor kamar hotel. Adanya “nomor kamar” ini membuat setiap blog memiliki identitasnya masing-masing sehingga reputasi setiap blog lebih terjaga.

Manajemen “hotel” cloud hosting juga menggunakan beberapa server. Dengan sistem manajemen ini, apabila ada satu server yang gagal, secara otomatis server yang lainnya akan menggantikannya. Manajemen inilah yang membuat kecepatan blog pada cloud hosting lebih stabil. Kecepatan dan kestabilan loading inilah yang mempengaruhi kepuasan pengunjung. 

Hosting jenis yang kedua adalah shared hosting yang sering kali disebut sebagai hosting tradisional. Seperti namanya, “shared hosting’, hosting jenis ini memiliki sifat berbagi. Karena sifat inilah, shared hosting kerap diumpamakan sebagai barak di mana setiap website berada di dalam satu ruang tanpa adanya sekat. Karakter yang dimiliki shared hosting, sedikit banyaknya, merupakan kebalikan dari cloud hosting. 

Dari perbandingan karakter kedua teknologi hosting hosting tersebut, kita bisa memutuskan cloud hosting sebagai pilihan ketika kita mengawali memiliki sebuah blog.

Sewa Hosting: Harga Seragam walau Teknologi bagai Bumi dan Langit

Menariknya, meskipun kecepatan dan kestabilan loading yang dihasilkan kedua jenis teknologi hosting tersebut berbeda namun harga yang ditawarkan keduanya relatif sama. Bahkan, bisa dikatakan “sebelas-dua belas”.

Penawaran harga yang relatif sama itulah yang membuat calon blogger tidak sulit menentukan pilihan. Gampangnya, pilih mana, menggunakan teknologi cloud hosting yang membuat blog layaknya menginap di kamar hotel atau penyedia shared hosting yang membuat blog seperti seperti tinggal berjubelan di dalam barak tanpa sekat?

Dengan harga hanya Rp 20.000 (saat ini didiskon menjadi Rp 15.000) per bulan pelaku usaha digital, termasuk usaha media, sudah bisa menyewa paket Starter Pro dari IDCloudHost (PT Cloud Hosting Indonesia). Sekalipun murah, dengan paket yang menawarkan oleh salah satu Cloud Provider Indonesia ini, pemilik website sudah bisa mengawali langkah meng-go digital-kan usahanya.

Selanjutnya, apabila visitor sudah meningkat, kita bisa menaikkannya menjadi Basic Pro, Entrepreneur Pro, Business Pro, Elite Pro, atau Advance Pro. Harga paket-paket itu pun masih terjangkau. Paket Business Pro, misalnya, ditawarkan dengan harga hanya Rp 95.000.

Tetapi, meskipun sama-sama memiliki jumlah visitor yang tinggi, kebutuhan akan sumber daya masing-masing blog berbeda-beda. Blog yang digunakan sebagai etalase digital barang dagangan memiliki kebutuhan yang berbeda dari blog berita yang kontennya bertambah setiap hari. 

Karena kebutuhan setiap blog yang berbeda-beda itulah IdCloudHost juga menawarkan layanan Private Cloud. Paket layanan Full Cloud yang merupakan pertama di Indonesia ditawarkan dengan harga terendah Rp 50.000.

Dengan paket yang sangat fleksibel ini, blogger hanya mengeluarkan harga sewa hosting yang sesuai dengan kebutuhan blognya.

Fasiltas Hosting Ini Bikin Kita bisa Nge-Blog tanpa harus Miliki Skill Per-Website-an

Satu faktor yang tidak kalah penting adalah dukungan atau support yang disediakan oleh  penyedia layanan hosting. Karena, melalui dukungan tersebut, blogger bisa mengajukan sejumlah pertanyaan atau permintaan perbaikan jika blog-nya mengalami trouble atau error. Dengan begitu, blogger dapat lebih memfokuskan diri pada kontennya.

Foto layar chat dengan CS IDCloudHost (Sumber: Dok Pri)

Seperti halnya pada jenis hosting, kecepatan support atau dukungan dari penyedia layanan hosting juga menjadi faktor penentu jumlah kunjungan. Sebab, error atau trouble yang lambat direspon akan berdampak pada ketidaknyamanan pengunjung.

Untuk menguji kecepatan respon tersebut caranya mudah, yaitu dengan menyampaikan pertanyaan kepada customer service (CS) lewat fitur obrolan live. Dari fitur itu, kita bukan hanya bisa mengetahui kecepatan respon CS penyedia layanan hosting, tetapi juga keramahan.

Simpulan

Jadi jelas, cara memilih penyedia layanan hosting sesungguhnya sangat sederhana. Pertama, pilih yang menggunakan teknologi cloud hosting. Kedua, cari penyedia layanan hosting yang cepat dalam merespon komplain.

Dengan dua cara sederhana tersebut, kebingungan bukan lagi alasan menunda-nunda meng-go digital-kan hobi atau usaha. Apalagi, semua tahu, menunda sama saja dengan menghilangkan kesempatan. Seperti pepatah, kesempatan tidak datang dua kali.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email

Tinggalkan komentar

Pos Terkait

Pos Lainnya